Jalan kehidupan tidak akan pernah diketahui oleh siapapun. Seperti apa kita dulu dan sekarang, rencana hidup sudah tertulis. Tapi yang Maha mempunyai rencana berkehendak lain. Hidup itu memang harus mengalir. Seperti sungai, kita seharusnya menjadi arus, menjadi air dan bukan menjadi batu. Seperti momentum yang datang dan pergi, setelah ia pergi bukan lagi sebuah momentum, melainkan sebuah kenangan. Kenangan laksana batu pada sungai tadi. Kita harus jadi arus, bukan batu.

 

Pada kenyataannya betapa sulit mengartikulasikan penggambaran tersebut. Sebab kita semua punya hati yang selalu berubah setiap saat. Dan itu memang sudah ketetapannya. Tuhan adalah zat yang Maha pembalik hati. Kadang ke kanan dan kadang ke kiri. Disaat ke kanan kita merasa seimbang tak pernah labil, ketika ke kiri, sudah lain berita.

 

Lalu kenapa Tuhan berbuat seperti itu? Agar kita punya pengalaman. Punya history. Orang bilang pengalaman adalah guru yang terbaik, tapi tidak serta merta pengalaman itu akan menjadi guru yang terbaik. Kapan pengalaman tersebut menjadi guru yang terbaik, jikalau kita dapat mengambil hikmah daripadanya. Pengalaman akan membuat kita mejadi orang yang bijak. Sebab orang yang bijak bukanlah orang yang tak pernah berbuat salah, ataupun sebaliknya. Orang yang bijak adalah orang yang bisa melihat dua sisi cermin sekaligus. Dimana cermin tersebut, dekat sekali dihati kita masing-masing.    

 

Bagaimana Saudara, anda boleh tidak setuju!

Ketika aku masih kecil, waktu itu ibuku sedang menyulam sehelai kain. Aku yang sedang bermain di lantai, melihat ke atas dan bertanya, apa yang ia lakukan. Ia menerangkan bahwa ia sedang menyulam sesuatu di atas sehelai kain. Tetapi aku memberitahu kepadanya, bahwa yang kulihat dari bawah adalah benang ruwet.

Ibu dengan tersenyum memandangiku dan berkata dengan lembut: “Anakku, lanjutkanlah permainanmu, sementara ibu menyelesaikan sulaman ini; nanti setelah selesai, kamu akan kupanggil dan kududukkan di atas pangkuan ibu dan kamu dapat melihat sulaman ini dari atas.”

Aku heran, mengapa ibu menggunakan benang hitam dan putih, begitu Semrawut menurut pandanganku. Beberapa saat kemudian, aku mendengar suara ibu memanggil; ” anakku, mari kesini, dan duduklah di pangkuan ibu. “

Waktu aku lakukan itu, aku heran dan kagum melihat bunga-bunga yang indah, dengan latar belakang pemandangan matahari yang sedang terbit, sungguh indah sekali. Aku hampir tidak percaya melihatnya, karena dari bawah yang aku lihat hanyalah benang-benang yang ruwet.

Kemudian ibu berkata:”Anakku, dari bawah memang nampak ruwet dan kacau, tetapi engkau tidak menyadari bahwa di atas kain ini sudah ada gambar yang direncanakan, sebuah pola, ibu hanya mengikutinya.

Sekarang, dengan melihatnya dari atas kamu dapat melihat keindahan dari apa yang ibu lakukan.

Sering selama bertahun-tahun, aku melihat ke atas dan bertanya kepada Allah; “Allah, apa yang Engkau lakukan? ” Ia menjawab: ” Aku sedang menyulam kehidupanmu.” Dan aku membantah,” Tetapi nampaknya hidup ini ruwet, benang-benangnya banyak yang hitam, mengapa tidak semuanya memakai warna yang cerah?”

Kemudian Allah menjawab,” Hambaku, kamu teruskan pekerjaanmu, dan Aku juga menyelesaikan pekerjaanKu di bumi ini. Satu saat nanti Aku akan memanggilmu ke sorga dan mendudukkan kamu di pangkuanKu, dan kamu akan melihat rencanaKu yang indah dari sisiKu.”

Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan bagian nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata : “Makanlah nak, aku tidak lapar”

(KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA)

 

Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia dapat memberikan sedikit makanan bergizi untuk pertumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk disamping kami dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan suduku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata : “Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan”

(KEBOHONGAN IBU YANG KE DUA)

 

Sekarang aku sudah masuk Sekolah Menengah, demi membiayai sekolahku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak mancis untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kepentingan hidup. Di kala musim sejuk tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak mancis.

Aku berkata : “Ibu, tidurlah, sudah malam, besok pagi ibu masih harus kerja.” Ibu tersenyum dan berkata : “Cepatlah tidur nak, aku tidak penat”

(KEBOHONGAN IBU YANG KE TIGA)

 

Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi loceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata : “Minumlah nak, aku tidak haus!”

(KEBOHONGAN IBU YANG KE EMPAT)

 

Setelah kepergian ayah, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai keperluan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang pakcik yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata : “Saya tidak butuh cinta”

(KEBOHONGAN IBU YANG KE LIMA)

 

Setelah aku tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi keperluan hidupnya. Aku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi keperluan ibu, tetapi ibu berkeras tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : “Saya ada duit”

(KEBOHONGAN IBU YANG KE ENAM)

 

Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena Diabetes dan komplikasi, harus dirawat di hospital, aku yang berada jauh segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani pembedahan. Ibu yang kelihatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam keadaan seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : “Jangan menangis anakku, Aku tidak kesakitan”

(KEBOHONGAN IBU YANG KE DELAPAN)

 

Setelah mengucapkan kebohongannya yang kelapan, ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.

 

Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : “Terima kasih ibu..!” Coba dipikir-pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon ayah ibu kita? Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang dengan ayah ibu kita? Di tengah-tengah aktivitas kita yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah. Jika dibandingkan dengan pasangan kita, kita pasti lebih peduli dengan pasangan kita. Buktinya, kita selalu risau akan kabar pasangan kita, risau apakah dia sudah makan atau belum, risau apakah dia bahagia bila di samping kita. Namun, apakah kita semua pernah merisaukan kabar dari orangtua kita? Risau apakah orangtua kita sudah makan atau belum? Risau apakah orangtua kita sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita renungkan kembali lagi…

 

Bersyukur bagi Saudara yang masih mempunyai orang tua, masih memiliki ibu. Memiliki ibu ibarat jika kita bangun tidur dan membuka jendela kamar, tampak jelas surga didepan mata.

 

Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi orangtua kita, lakukanlah yang terbaik.

Jangan sampai ada kata “MENYESAL” di kemudian hari.

 

Bagaimana Saudara, Anda boleh tidak setuju!

 

Di awal zaman, Tuhan menciptakan seekor sapi.

Beliau berkata kepada sang sapi “Hari ini kuciptakan kau!

Sebagai sapi engkau harus pergi ke padang rumput.

Kau harus bekerja di bawah terik matahari sepanjang hari.

Kutetapkan umurmu sekitar 50 tahun.”

Sang Sapi keberatan “Kehidupanku akan sangat berat selama 50 tahun.

Kiranya 20 tahun cukuplah buatku.

Kukembalikan kepadamu yang 30 tahun”

Maka setujulah Tuhan.

 

Di hari kedua, Tuhan menciptakan monyet.

“Hai monyet, hiburlah  manusia. Aku berikan kau umur 20 tahun!”

Sang monyet menjawab “What?

Menghibur mereka dan membuat mereka tertawa? 10 tahun cukuplah.

Kukembalikan 10 tahun padamu” Maka setujulah Tuhan.

 

Di hari ketiga, Tuhan menciptakan anjing. “Apa yang harus kau lakukan

adalah menjaga pintu rumah majikanmu.

Setiap orang mendekat kau harus menggongongnya.

Untuk itu kuberikan hidupmu selama 20 tahun!”

Sang anjing menolak : “Menjaga pintu sepanjang hari selama 20 tahun ?

No way.! Kukembalikan 10 tahun padamu”. Maka setujulah Tuhan.

 

Di hari keempat, Tuhan menciptakan manusia.

Sabda Tuhan: “Tugasmu adalah makan, tidur, dan bersenang-senang.

Inilah kehidupan. Kau akan menikmatinya.

Akan kuberikan engkau umur sepanjang 25 tahun!”

Sang manusia keberatan, katanya “Menikmati kehidupan selama 20 tahun?

Itu terlalu pendek Tuhan. Let’s make a deal.

Karena sapi mengembalikan 30 tahun usianya,

lalu anjing mengembalikan 10 tahun, dan monyet

mengembalikan 10 tahun usianya padamu, berikanlah semuanya itu

padaku. Semua itu akan menambah masa hidupku menjadi 75 tahun.

Setuju ?”   Maka setujulah Tuhan.

 

 

AKIBATNYA…………………………

 

Pada 25 tahun pertama kehidupan sebagai manusia dijalankan

(kita makan, tidur dan bersenang-senang)

 

30 tahun berikutnya menjalankan kehidupan layaknya seekor sapi

(kita harus bekerja keras sepanjang hari untuk menopang keluarga kita.)

 

10 tahun kemudian kita menghibur dan membuat cucu kita

tertawa dengan berperan sebagai monyet yang menghibur.

 

Dan 10 tahun berikutnya kita tinggal dirumah, duduk

didepan pintu, dan menggonggong kepada orang yang lewat

 

Sorry hanya untuk renungan..

Bagaimana Saudara, Anda boleh tidak setuju!

Kawan….

Kenapa kita menutup mata ketika kita tidur ?

Ketika kita menangis ?

Ketika kita membayangkan ?

Itu karena hal terindah TIDAK TERLIHAT di dunia ini….

 

Kadang….

Ada hal-hal yang tidak ingin kita lepaskan….

Orang-orang yang tidak ingin kita tinggalkan….

Tapi ingatlah….melepaskan BUKAN akhir dari dunia….

Melainkan awal dari suatu kehidupan baru….

 

Kebahagiaan Ada untuk mereka yang menangis….

Mereka yang tersakiti….mereka yang telah mencari…..

Dan mereka yang telah mencoba….

Karena MEREKALAH yang bisa menghargai

Betapa pentingnya orang-orang yang telah menyentuh kehidupan mereka

Dengan CINTA yang TULUS…..

 

Adala ketika kita menitikkan air mata,

Dan masih peduli terhadapnya….

Adalah ketika dia tidak mempedulikanmu,

Dan kita masih menunggunya dengan setia….

Adalah ketika dia mulai mencintai orang lain

Dan kita MASIH bisa tersenyum….

Apabila cinta tidak berhasil…. BEBASKAN diri kita….

Biarkan hati kita kembali melebarkan sayapnya

Dan terbang de alam bebas….

 

Ingatlah….

Bahwa kita mungkin menemukan cinta dan kehilangannya….

Tapi…

Ketika cinta itu mati…. kita tidak perlu MATI bersamanya….

Orang terkuat BUKAN mereka yang selelu menang….

MELAINKAN mereka yang tetap berdiri tegap ketika mereka jatuh….

 

Entah bagaimana…

Dalam perjalanan kehidupan,

Kita belajar tentang diri kita sendiri….

Dan … menyadari bahwa

Penyesalan tidak seharusnya ada…. HANYALAH

Penghargaan abadi atas pilihan-pilihan hidup yang telah kita buat

 

 

MENCINTAI….

BUKANlah bagaimana kita melupakan….melainkan

Bagaimana kita MEMAAFKAN….

BUKAN bagaimana kita mendengarkan….melainkan

Bagaimana kita MENGERTI….

BUKAN apa yang kita lihat…. melainkan apa yang kita RASAKAN

BUKAN bagaimana kita melepaskan….melainkan

Bagaimana kita BERTAHAN….


Kawan…..

Lebih berbahaya mencucurkan air mata dalam hati….

Dibandingkan menangis tersedu-sedu….

Air mata yang keluar dapat dihapus….sementara air mata yang tersembunyi dalam hati,

Menggoreskan luka yang tidak akan pernah hilang….

 

Akan tiba saatnya dimana kita harus berhenti mencintai seseorang

BUKAN karena orang itu berhenti mencintai kita

MELAINKAN….

Karena ktia menyadari bahwa orang itu akan lebih berbahagia apabila kita melepaskannya

 

Kadang kala orang yang kita cintai adalah orang yang PALING menyakiti hati kita dan…

Kadang kala, teman yang menangis bersama kita adalah cinta yang tidak kita sadari…..

 

 

Bagaimana Saudara, Anda boleh tidak setuju!

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari
Birokrasi berasal dari kata bureaucracy (bahasa inggris bureau + cracy), diartikan sebagai suatu organisasi yang memiliki rantai komando dengan bentuk piramida, dimana lebih banyak orang berada ditingkat bawah dari pada tingkat atas, biasanya ditemui pada instansi yang sifatnya administratif maupun militer.
Pada rantai komando ini setiap posisi serta tanggung jawab kerjanya dideskripsikan dengan jelas dalam organigram. Organisasi ini pun memiliki aturan dan prosedur ketat sehingga cenderung kurang fleksibel. Ciri lainnya adalah biasanya terdapat banyak formulir yang harus dilengkapi dan pendelegasian wewenang harus dilakukan sesuai dengan hirarki kekuasaan.

Berbagai definisi birokrat
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, birokrasi didefinisikan sebagai :
1. Sistem pemerintahan yang dijalankan oleh pegawai pemerintah karena telah berpegang pada hirarki dan jenjang jabatan
2. Cara bekerja atau susunan pekerjaan yang serba lamban, serta menurut tata aturan (adat dan sebagainya) yang banyak liku-likunya dan sebagainya.
Definisi birokrasi ini mengalami revisi, dimana birokrasi selanjutnya didefinisikan sebagai
1.Sistem pemerintahan yang dijalankan oleh pegawai bayaran yang tidak dipilih oleh rakyat, dan

2.Cara pemerintahan yang sangat dikuasai oleh pegawai.

Berdasarkan definisi tersebut, pegawai atau karyawan dari birokrasi diperoleh dari penunjukan atau ditunjuk (appointed) dan bukan dipilih (elected).

Saat membacakan Proklamasi, usia Bung Karno (BK) 44 tahun, lebih tua setahun dari Mohamad Hatta. Orang yang dituakan BK tinggal sedikit, misalnya Haji Agus Salim (61), Ki Hajar Dewantara (56), atau Tan Malaka (48).
Panglima Besar Jenderal Sudirman 15 tahun lebih muda, Wakil Panglima Besar Kolonel AH Nasution 17 tahun di bawahnya. Ketika menulis Indonesia Menggugat, BK baru 27 tahun—Pak Nas masih remaja.
Perbedaan usia BK yang berkuasa selama 20 tahun dengan pemimpin parpol/TNI makin tahun makin kentara. Dalam bahasa Belanda ia diledek sebagai ouwe heer alias Pak Tua.
BK kesepian waktu Bung Hatta mundur dari jabatan wapres tahun 1956. Ia sibuk dengan “Konsepsi”, habis-habisan menjaga demokrasi parlementer, dirundung pemberontakan, mau dibunuh, sampai memaklumatkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959.
Ia tokoh sentral yang belum tertandingi siapa pun. BK praktis jadi pemerintah yang tak berhenti gelisah barang sedetik pun.
Ia makin jarang berkunjung ke daerah, tetapi sering ke luar negeri untuk kunjungan kerja maupun pribadi. Ia mengenakan seragam lengkap dengan deretan tanda jasa di dada untuk mengingatkan TNI ia-lah sang pangti.
Dalam waktu 20 tahun ia menerima 26 gelar doktor kehormatan. Buku-buku yang dilahapnya berserakan di kamar tidur, toilet, ruang tamu, atau di meja makan.
BK memiliki semuanya, kecuali uang. Anda pasti tak percaya sebagian duit membangun rumah di Jalan Sriwijaya, Jakarta Selatan, berasal dari utang.
Semua orang datang tak henti meminta bertemu dia. Jam tidur dia hanya 3-4 jam sehari dan itu pun sering terganggu karena ia “turba” (turun ke bawah) melihat kehidupan rakyat tanpa pengawal dengan VW Kodok warna hijau kesayangannya.
Mungkin idealnya BK mengakhiri karier politiknya saat memasuki usia 60 tahun. Mungkin Pak Amien Rais benar saat menyarankan usia capres pada pilpres tahun 2009 maksimal 60 tahun.
Tetapi, siapa pula yang bisa mengatur napas politik BK? Dalam periode 1960-1965 itulah BK justru menjalani tahun-tahun yang paling menentukan masa depan politiknya.
Jumlah penduduk Indonesia sekitar 100 juta. Kehidupan ekonomi memprihatinkan, antara lain karena pemberontakan PRRI/Permesta, politik konfrontasi terhadap Malaysia, dan perang merebut Irian Barat dari tangan Belanda.
Rencana Pembangunan Nasional tahap ketiga yang bertujuan Indonesia tinggal landas masuk tahap industrialisasi tak berjalan meski BK memimpin Kabinet Kerja I sampai IV (1959-1964). Di saat yang sama BK menjalankan politik luar negeri yang ambisius dengan menyelenggarakan Asian Games (1962), Ganefo (1963), dan membentuk Conefo (1965).
Lebih dari itu, BK direcoki lawan-lawan politiknya di luar maupun dalam negeri. Ia masih jadi sasaran pembunuhan, sering digosipkan mau dikudeta lalu diasingkan ke China, dirumorkan sakit keras, bahkan mau kabur ke luar negeri.
Pada saat yang sama kepemimpinan BK makin tak kenal ampun, termasuk memenjarakan rekan-rekan seperjuangan sendiri. Lima tahun sejak 1960 ia makin sering mengangkat sekaligus memecat orang, termasuk mereka yang tergabung dalam “Kabinet 100 Menteri”.
BK disanjung-sanjung dengan gelar-gelar kosong, seperti “Penyambung Lidah Rakyat”, “Presiden Seumur Hidup”, atau “Pemimpin Besar Revolusi”. Ia memaksa orang menari “lenso”, menangkap Koes Bersaudara yang memainkan musik ngak-ngik-ngok ala The Beatles, atau dipuja-puji lewat lagu Oentoek Paduka Jang Mulia yang dinyanyikan Lilis Suryani.
Ia terperangkap ke dalam slogan-slogan karangan dia sendiri, seperti “Manipol-Usdek”, “Tahun Vivere Peri Koloso”, atau “Panca Azimat Revolusi”. Ia terlalu sering mengelu-elukan Menpangad Letjen Achmad Yani atau Ketua Umum PKI DN Aidit jadi “putra mahkota” pengganti resmi.
Kekuatan Tiga Besar dalam negeri yang dihadapi BK terangkum lewat Nasakom yang menurut dia merupakan “jiwaku”. BK menegaskan yang menghalangi Nasakom akan disingkirkan karena masuk kategori “kepala batu”.
BK menjaga jarak dengan PNI untuk unjuk diri sebagai “bapak” penaung semua aliran. Makin tahun ia makin memanjakan PKI dan membiarkan mereka berkali-kali mengganggu kalangan beragama, misalnya lewat isu land reform atau kampanye anti-Tuhan.
Meski sering bertikai secara terbuka, BK tak beda prinsip dengan kelompok nasionalis lainnya, TNI. Mereka sejalan dalam menghadapi pemberontakan PRRI/Permesta, perang pembebasan Irian Barat, dan politik konfrontasi.
Namun, pertentangan BK-Pak Nas sejak 1950-an jadi faktor dominan yang ikut memengaruhi pecahnya G30S tahun 1965. Pangti ouwe heer yang berumur 64 tahun berhadapan dengan sesepuh TNI AD yang baru berusia 46 tahun pas tahun 1965.
Kedua-duanya sama-sama berjuang dari bawah dan selama jadi pejabat publik menerapkan pola hidup sederhana. Pak Nas pembawa panji Orde Baru yang setengah hati, BK kalah dan terkurung sampai meninggal dunia.
BK sering mengatakan, “Revolusi akan memakan anaknya sendiri”. Pada detik-detik terakhir ia bisa saja melancarkan serangan balik, tetapi untuk apa kalau cuma memecah belah bangsanya sendiri?
Tahun 1965 itulah akhir dari “Drama Indonesia Jilid Pertama”. Mereka yang memujanya mungkin lebih banyak daripada yang membencinya, tetapi tak ada yang tak setuju bahwa BK jadi bintang utamanya.
Bagaimana dengan “Drama Indonesia Jilid Kedua”? Tunggu tanggal mainnya.

Bung Karno percaya hubungan pribadi antarpemimpin berpengaruh pada
pergaulan internasional. Ia pelopor Konferensi Asia-Afrika 1955 dan
merasa jadi duta Gerakan Nonblok menghadapi Presiden AS Dwight
Eisenhower (1953-1961), Sekjen PKUS Nikita Khrushchev (1953-1964), dan
Ketua PKC Mao Zedong (1945-1976).

Setahun setelah KAA, ia diundang Eisenhower ke AS, September 1956.
Setelah itu bertemu Mao di Beijing serta Khrushchev di Moskwa.

Bung Karno (BK) marah ditelantarkan 10 menit sebelum diterima
Eisenhower. Hubungan mereka buruk karena Eisenhower mendukung
pemberontakan PRRI/Permesta dan memerintahkan CIA membunuh BK.

Hubungan pribadi BK dengan Mao atau Khrushchev hanyalah basa-basi. Mao
malah sering mengundang Ketua Umum PKI DN Aidit ke Beijing, Khrushchev
lebih tertarik menumpahkan senjata untuk TNI.

Setelah PRRI/Permesta, hubungan BK-Presiden John F Kennedy (1961-1963)
amat akrab. Waktu di Washington DC tahun 1961, BK merasa cocok dengan
JFK—beda dengan Eisenhower yang dianggap contoh ideal “the ugly America”.

JFK menghadiahi BK sebuah heli Sikorsky. Mereka bergosip tentang sex
bomb seperti Gina Lollobrigida walau JFK sempat tersinggung saat BK
menawari Jacqueline Kennedy berkunjung sendirian ke RI.

Tiga Besar enggan kehilangan RI karena nilai strategisnya sama dengan
Indochina. Asumsi JFK, kehadiran pangkalan komunis di Jawa-Sumatera
melemahkan kekuatan pakta militer SEATO (Southeast Asia Treaty
Organization).

RI yang pro-Soviet atau China akan mengisolir Australia-Selandia Baru
dari pengawasan Barat. Soviet dan China mengincar RI lewat strategi
“Lompat Katak”: lebih mudah mengomuniskan Daratan Asia Tenggara jika
RI ada di bawah pengaruh satelit mereka.

Siapa pun yang menguasai RI mengontrol Samudra India dan Pasifik. RI
ibarat kolam renang besar dengan air susu yang digemari tua-muda.

Hubungan China-Soviet terganggu setelah Khrushchev menyepakati
peaceful coexitence dengan AS. Mao tersinggung kepada BK yang mengusir
warga stateless China tahun 1959-1960.

Sebagian dari senjata Soviet yang komitmennya akan mencapai lebih dari
semiliar dollar AS merupakan sejumlah rudal darat-ke-darat yang
bernama Kuba. Peralatan militer dari Soviet itulah yang digunakan TNI
untuk menyerbu ke Semenanjung Malaysia saat puncak Konfrontasi tahun 1964.

China tak mau kalah. Mao berjanji mengalihkan teknologi senjata nuklir
jika China diizinkan melakukan uji coba senjata nuklir di bawah laut
di wilayah perairan sekitar Irian Barat atau di sekitar Pulau Mentawai.

Giliran JFK yang tak mau ketinggalan langkah. Lewat program Atom for
Peace, ia meminjamkan 2,3 kg uranium untuk pengembangan reaktor nuklir
milik ITB di Bandung. Pada tahun 1965 reaktor yang bertujuan damai itu
sudah operasional sampai 25 persen.

JFK bermaksud BK boleh mengembangkan teknologi nuklir untuk tujuan
perdamaian. Reaktor itu secara rutin diperiksa IAEA, tetapi BK
ditengarai mempunyai agenda tersembunyi ingin menjadikan RI going
nuclear alias menjadi negara bersenjata nuklir.

Sejak 1964, BK rajin menyuplai berbagai jenis senjata ke sejumlah
negara Afrika yang memerangi rezim-rezim antek bekas negara-negara
penjajah. Di daerah Kemayoran ada Jalan Patrice Lumumba, PM Kongo yang
juga pejuang antikolonialisme Belgia yang dikudeta rekannya sendiri
tahun 1960.

BK mengundang latihan serdadu yang datang dari Korea Utara, Vietcong
(Vietnam Utara), maupun Laos yang beruntung mendapatkan keahlian
tempur dari TNI. Pilot-pilot dari Kamboja dan Burma berlatih
menerbangkan pesawat tempur buatan Soviet, MiG-17, di sini.

Tahun 1965 RI menyuplai berbagai jenis MiG dan kapal-kapal perang
untuk Pakistan yang ketika itu terlibat perang melawan India. BK
memilih Pakistan karena ia berencana merekrut negeri Islam itu untuk
bergabung ke poros Jakarta-Hanoi-Beijing-Pyongyang.

Nah, satu-satunya pemimpin Barat yang prihatin menyaksikan BK dan
selalu mengulurkan tangan adalah JFK. Ia beberapa kali menekan Inggris
untuk mengalah dari BK, terutama dalam soal rencana Inggris mendirikan
pangkalan militer di Singapura.

JFK berkali-kali “menginjak kaki” Belanda dalam perundingan mengenai
Irian Barat. Bekas penjajah ini sejak 1945 jadi “tukang nébéng” yang
tak rela meninggalkan RI yang kaya raya.

Dua bekas jajahan Inggris, Malaysia dan Singapura, sejak dulu mau
ambil untung dari RI. Seperti kata pepatah, “Rumput tetangga lebih
hijau daripada rumput sendiri”.

Setelah JFK tewas, Presiden Lyndon Johnson (1963-1969) melonggarkan
komitmen. Ia mengurangi keterlibatan karena berbagai alasan, terutama
sukarnya menghindari risiko RI jadi komunis.

Ilmuwan Guy Paker dan Henry Brands dan mantan Kepala Stasiun CIA di
Jakarta Hugh Tovar membantah AS mendalangi peristiwa G30S. Walau
senang PKI ditumpas, mereka kaget Orde Baru membantai ratusan ribu
korban tak bersalah.

Bulu kuduk media massa AS merinding melihat amok massa itu. Partai
komunis, sosialis, dan liberal di AS idem ditto.

BK memikul beban berat mengatur bangsa yang perangainya unmanageable
ini. Andai ia yakin pada demokrasi dan keberagaman, dua ciri utama
kedua bangsa, nasib dia bisa berbeda.

Telah terbukti AS sekutu demokratis yang terbaik, bahkan dalam
menghadapi musuh-musuh dalam selimut yang masih berkeliaran. Pelajaran
terpenting: tak perlu tiap sebentar histeris meneriakkan slogan
anti-Amerika.

Oleh Budiarto Shambazy
 =========================

Pada awal 1960-an minyak mencakup seperempat dari total ekspor RI.
Industri ini didominasi multinational corporation atau MNC yang
menanam modal 400 juta dollar AS dan diperkirakan melonjak ke satu
miliar dollar AS tahun 1965.

Caltex Amerika Serikat (AS) menguasai 85 persen ekspor, Stanvac (AS)
5 persen, dan Permina 10 persen. Tahun 1963 total ekspor RI 94 juta
barrel per tahun atau 1,7 persen dari konsumsi dunia.

Ekspor minyak dikuasai Shell (Belanda) yang per tahunnya 43 juta
barrel—sementara Stanvac 10 juta barrel. Penerima terbesar adalah AS,
Jepang, dan Australia.

Sejak tahun 1951, Bung Karno (BK) membekukan konsesi bagi MNC dan
memberlakukan UU Nomor 44 Tahun 1960. UU ini menegaskan, “Seluruh
pengelolaan minyak dan gas alam dilakukan negara atau perusahaan
negara.”

Sejak merdeka, MNC berpegang pada “let alone agreement”. Cara ini
menghindari nasionalisasi, namun juga mewajibkan MNC mempekerjakan
tenaga lokal lebih banyak lagi.

Pembekuan konsesi membuat MNC kelabakan karena laba menurun dan
produksi terhambat. “Tiga Besar” (Stanvac, Caltex, dan Shell) meminta
negosiasi ulang.

BK menjawab, kalau MNC menolak UU No 44/1960, ia akan jual konsesi ke
Jepang. Maret 1963 BK mengatakan, “Saya berikan Anda waktu beberapa
hari untuk berpikir dan saya akan batalkan seluruh kontrak lama jika
Tuan-tuan tak mau terima tuntutan saya.”

Apa tuntutan BK? Ia minta Caltex menyuplai 53 persen dari kebutuhan
domestik yang harus disuling Permina. Surplus produksi yang
dihasilkan Tiga Besar harus dipasarkan ke luar negeri dan hasilnya
diserahkan ke RI.

Caltex wajib menyerahkan fasilitas distribusi dan pemasaran dalam
negeri dan biaya prosesnya diambil dari laba ekspor. Caltex juga
menyediakan valuta asing yang dibutuhkan untuk biaya pengeluaran dan
investasi modal yang dibutuhkan Permina.

Masih kurang, BK menuntut Caltex menyuplai kebutuhan minyak tanah dan
BBM dalam negeri. Formula pembagian laba 60 persen untuk RI dalam
mata uang asing dan 40 persen untuk Caltex dihitung dalam rupiah.

Karuan saja Caltex panik dan minta bantuan Presiden John F Kennedy.
Mereka menilai tuntutan BK tak masuk akal dan bisa membuat Caltex
bangkrut.

Tadinya Washington DC menganggap BK gertak sambal. Namun, waktu
Presiden China Liu Shaoqi dan menteri Uni Soviet datang ke Jakarta
membahas penjualan konsesi, mereka sadar BK tak main-main.

Duta Besar AS di Jakarta Howard Jones pusing. “Jika Tiga Besar
keluar, AS tak punya pilihan kecuali membatalkan bantuan ekonomi.
Jangan mengancam, BK tak bisa ditekan,” lapor Jones ke Kennedy.

Saat itu RI baru mau ikut program paket stabilisasi IMF yang
ditawarkan Kennedy. Sehari setelah penandatanganan paket itu, BK
menerbitkan “Regulasi 18″ yang isinya tuntutan resmi dia.

BK tak mau paket stabilisasi dikaitkan dengan Regulasi 18. Kennedy
ketar-ketir dan segera mengirimkan utusan khusus, Wilson Wyatt, ke
Tokyo, “mencegat” BK yang berada di Jepang.

Lewat negosiasi alot, BK dan Wyatt menyepakati sistem “kontrak karya”
yang disahkan DPR, 25 September 1963. Intinya, RI memiliki kedaulatan
atas kekayaan migas sampai ke tempat penjualan (point of sale).

MNC cuma kontraktor: Stanvac untuk Permina, Caltex untuk Pertamin,
dan Shell untuk Permigan. Jangka waktu dan area konsesi dibatasi
dibandingkan dengan kontrak-kontrak lama.

MNC menyerahkan 25 persen area eksplorasi setelah 5 tahun dan 25
persen lainnya setelah 10 tahun. Pembagian laba tetap 60:40, MNC
wajib menyediakan kebutuhan untuk pasar domestik dengan harga tetap
dan menjual aset distribusi-pemasaran setelah jangka waktu tertentu.

MNC mau menerima karena yang penting batal kehilangan konsesi.
Kennedy dan Kongres langsung menyetujui paket stabilisasi IMF, yang
oleh BK diselaraskan dengan Rencana Pembangunan Nasional (RPN) Ketiga
yang berlaku delapan tahun (1961).

Tahap pertama RPN mencapai swasembada sandang-pangan, tahap kedua
memulai industrialisasi. Jangan-jangan RPN jauh lebih baik
dibandingkan dengan Repelita.

Bandingkan kontrak karya dengan profit-sharing agreement (PSA) ala
Orde Baru yang justru antinasionalisasi. PSA seolah menempatkan RI
sebagai pemilik, MNC kontraktor.

Namun, pada praktiknya MNC yang mengontrol ladang yang mendatangkan
laba berlipat ganda—mirip kolonialisme. PSA pernikahan ideal antara
kontrak bagi hasil yang seolah menempatkan RI jadi majikan dan sistem
kontrak berbasis konsesi/lisensi yang profit oriented.

RI seakan pegang kendali, padahal MNC-lah yang punya
kedaulatan. “Klausul stabilisasi” PSA mengatakan UU RI tak berlaku
bagi setiap kegiatan MNC dan tak bisa jadi rujukan jika sengketa
terjadi—yang berlaku hukum internasional yang tak kenal kepentingan
nasional.

“Cerita sukses” PSA ini yang dipakai MNC untuk menguras minyak Irak.
Ironisnya BK malah dikagumi presiden yang bukan orang sini: Evo
Morales.

Populasi 100 juta, 70 persen di desa dan lebih dari 50 persen GNP
berasal dari pertanian—dari industri 15 persen. Utang luar negeri 2,5
miliar dollar AS walau inflasi membengkak akibat PRRI/Permesta,
Konfrontasi, dan pembebasan Irian Barat.

Tingkat melék huruf naik dari 10 ke 50 persen (1960). Sukses BK
lainnya yang sering disebut orang luar negeri adalah membenahi
pendidikan karena kualitas kurikulum membuat generasi muda siap
bersaing di tingkat internasional.

Nah, ada pertanyaan?

Pilihlah Gaya Manajemen yang Tepat
Friday, 17th November 2006

Apakah anda sekarang sedang mencari-cari gaya manajemen yang dapat anda terapkan pada seluruh karyawan anda? Okay, sebaiknya anda hentikan saja usaha anda. Mengapa? Karena ada kesepakatan di antara para ahli manajemen yang menyatakan bahwa tak ada satu gaya pun yang paling baik. Malah, jauh lebih efektif bila anda menggunakan beberapa gaya manajemen.

Pendekatan ini, yang dikenal dengan “situational leadership” atau kepemimpinan situasional, meminta manajer untuk mengubah-ubah gaya kemanajemenannya tergantung pada jawaban atas dua pertanyaan berikut: 1) Seberapa kompeten karyawan anda menyelesaikan tugas-tugasnya? 2) Seberapa mandiri karyawan anda melakukan tugas-tugasnya sendiri? Keefektifan dari seorang manajer tidak ditentukan oleh gaya apa yang cocok bagi dirinya, melainkan apakah gaya manajemen tersebut cocok bagi karyawannya.

Kepemimpinan situasional terdiri dari empat macam gaya.

1–Pertama disebut “directing” / pengarahan.
Gaya ini dicirikan dengan memberikan instruksi kepada karyawan, melakukan supervisi yang ketat atas kinerja mereka, dan melakukan hampir semua pengambilan keputusan dan pemecahan masalah oleh anda sendiri. Gaya ini cocok diterapkan pada mereka yang baru bekerja pada suatu proyek, atau mereka yang tidak memiliki kemampuan dan kinerja cukup baik, atau bila anda berada dalam suatu krisi dan tidak memiliki cukup waktu untuk melakukan konsultasi dengan karyawan anda. Bagaimana pun, manajer yang menggunakan gaya ini terus-menerus akan mudah dipandang sebagai manajer yang otokratik.

2–Kedua disebut dengan “cosultative atau coaching” / konsultasi atau bimbingan.
Gaya ini meminta manajer untuk tetap memberikan pengarahan tetapi mulai melibatkan karyawan lebih banyak dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah. Gaya ini disempurnakan dengan meminta opini pribadi karyawan, mengajukan pertanyaan untuk dijawab, dan menunjukkan minat anda pada mereka sebagai seorang individu.

Gaya ini cocok diterapkan bila karyawan anda bukan lagi seorang pemula tetapi belum mencapai tingkat ketrampilan tinggi atau belum memiliki kepercayaan diri atas kemampuannya dalam menangani tugas-tugas mereka.

3–Ketiga disebut dengan “supporting” / dukungan.
Anda menggunakan gaya ini bila karyawan anda mampu melakukan tugas-tugas mereka namun tidak cukup memiliki kepercayaan diri. Dalam hal ini, peran anda adalah menguatkan suara mereka dan menjadi mitra diskusi bagi pemecahan masalah. Anda bukan orang yang wajib memecahkan masalahnya tetapi anda memberikan dukungan serta keberanian agar mereka mampu memecahkan masalah itu sendiri. Dengan melakukan ini anda akan meningkatkan kemandirian dan kepercayaan diri karyawan anda.

4–Keempat disebut dengan “delegating” / delegasi.
Anda menggunakan gaya ini pada karyawan yang telah trampil dan memiliki kepercayaan diri atas kemampuan mereka melakukan tugas-tugasnya. Dalam banyak hal, karyawan pada tingkat ini mampu memanaje diri sendiri dan hanya datang pada anda untuk membicarakan proyek baru, tugas-tugas baru atau mereka membutuhkan bantuan anda. Bagaimana pun, tetaplah diingat bahwa jika anda menggunakan gaya ini sebelum karyawan anda benar-benar siap, mereka malah akan merasa anda sedang bertingkah seperti bos saja.

Memilih gaya mana yang tepat dengan karyawan anda adalah bagaimana anda menilai kecapakan dan kemandirian karyawan dalam melakukan tugas-tugas mereka. Bila ketrampilan karyawan adalah rendah, gunakan lebih banyak gaya “directing”. Bila karyawan anda tampaknya cukup kompeten, gunakan gaya “coaching”. Bila karyawan anda benar-benar kompeten tetapi tak cukup berani, pilihlah gaya “supporting”. Dan, jika karyawan anda benar-benar trampil serta berani mengambil keputusan, gunakan gaya “delegating”

Memilih gaya yang tepat bukan hal yang mudah. Bila anda menggunakan gaya yang keliru anda akan menciptakan masalah produktivitas dan moral. Sebagai misal, menggunakan gaya “directing” pada karyawan yang telah kompeten akan mengakibatkan penurunan kepercayaan diri dan kemampuannya,

bahkan mungkin mereka menganggap andalah yang tidak memiliki kepercayaan diri dan kemampuan untuk memanaje mereka. Sebaliknya, menggunakan gaya “supporting” atau “delegating” pada karyawan yang tidak kompeten akan mendorong karyawan dan anda sendiri jatuh pada kegagalan. Dengan menentukan secara tepat bagaimanakah kondisi karyawan anda serta menyesuaikan kebutuhannya dengan gaya manajemen yang tepat, maka anda dan karyawan anda akan dapat mencapai tujuan dengan memuaskan.

 

 Sebaiknya anda camkan tiga hal berikut.1–Teruslah mengubah gaya manajemen anda seiring dengan perkembangan kemampuan dan kepercayaan diri karyawan, atau anda akan membuat karyawan anda tetap terkungkung dalam tingkat pengembangan diri yang terlalu rendah.

2–Bersiap-siaplah untuk menggunakan gaya yang berbeda pada orang yang sama karena mungkin ia memiliki kecapakan pada suatu tugas, tetapi pada tugas-tugas baru ia membutuhkan gaya yang lain.

3–Anda harus senantiasa bertujuan meningkatkan kemampuan dan kepercayaan diri karyawan, meski tidak semua karyawan anda akan berhasil mendapatkan gaya “delegating” anda.

Kesimpulannya, pendekatan kepemimpinan situasional telah menjadi populer untuk mengelola orang karena ia mengakui perbedaan masing-masing orang serta ia menunjukkan jalan untuk menggerakkan karyawan dari tingkat yang rendah menuju tingkat lebih tinggi, baik di bidang kompetensi dan kemandiriannya. Bila anda belajar untuk menggunakannya, tugas anda akan semakin lebih mudah karena karyawan anda belajar bagaimana mengelola diri mereka sendiri.

(Choosing the Right Management Style, Dawn Hodson, Women as Managers)

Halaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.