Jalan kehidupan tidak akan pernah diketahui oleh siapapun. Seperti apa kita dulu dan sekarang, rencana hidup sudah tertulis. Tapi yang Maha mempunyai rencana berkehendak lain. Hidup itu memang harus mengalir. Seperti sungai, kita seharusnya menjadi arus, menjadi air dan bukan menjadi batu. Seperti momentum yang datang dan pergi, setelah ia pergi bukan lagi sebuah momentum, melainkan sebuah kenangan. Kenangan laksana batu pada sungai tadi. Kita harus jadi arus, bukan batu.

 

Pada kenyataannya betapa sulit mengartikulasikan penggambaran tersebut. Sebab kita semua punya hati yang selalu berubah setiap saat. Dan itu memang sudah ketetapannya. Tuhan adalah zat yang Maha pembalik hati. Kadang ke kanan dan kadang ke kiri. Disaat ke kanan kita merasa seimbang tak pernah labil, ketika ke kiri, sudah lain berita.

 

Lalu kenapa Tuhan berbuat seperti itu? Agar kita punya pengalaman. Punya history. Orang bilang pengalaman adalah guru yang terbaik, tapi tidak serta merta pengalaman itu akan menjadi guru yang terbaik. Kapan pengalaman tersebut menjadi guru yang terbaik, jikalau kita dapat mengambil hikmah daripadanya. Pengalaman akan membuat kita mejadi orang yang bijak. Sebab orang yang bijak bukanlah orang yang tak pernah berbuat salah, ataupun sebaliknya. Orang yang bijak adalah orang yang bisa melihat dua sisi cermin sekaligus. Dimana cermin tersebut, dekat sekali dihati kita masing-masing.    

 

Bagaimana Saudara, anda boleh tidak setuju!

Ketika aku masih kecil, waktu itu ibuku sedang menyulam sehelai kain. Aku yang sedang bermain di lantai, melihat ke atas dan bertanya, apa yang ia lakukan. Ia menerangkan bahwa ia sedang menyulam sesuatu di atas sehelai kain. Tetapi aku memberitahu kepadanya, bahwa yang kulihat dari bawah adalah benang ruwet.

Ibu dengan tersenyum memandangiku dan berkata dengan lembut: “Anakku, lanjutkanlah permainanmu, sementara ibu menyelesaikan sulaman ini; nanti setelah selesai, kamu akan kupanggil dan kududukkan di atas pangkuan ibu dan kamu dapat melihat sulaman ini dari atas.”

Aku heran, mengapa ibu menggunakan benang hitam dan putih, begitu Semrawut menurut pandanganku. Beberapa saat kemudian, aku mendengar suara ibu memanggil; ” anakku, mari kesini, dan duduklah di pangkuan ibu. “

Waktu aku lakukan itu, aku heran dan kagum melihat bunga-bunga yang indah, dengan latar belakang pemandangan matahari yang sedang terbit, sungguh indah sekali. Aku hampir tidak percaya melihatnya, karena dari bawah yang aku lihat hanyalah benang-benang yang ruwet.

Kemudian ibu berkata:”Anakku, dari bawah memang nampak ruwet dan kacau, tetapi engkau tidak menyadari bahwa di atas kain ini sudah ada gambar yang direncanakan, sebuah pola, ibu hanya mengikutinya.

Sekarang, dengan melihatnya dari atas kamu dapat melihat keindahan dari apa yang ibu lakukan.

Sering selama bertahun-tahun, aku melihat ke atas dan bertanya kepada Allah; “Allah, apa yang Engkau lakukan? ” Ia menjawab: ” Aku sedang menyulam kehidupanmu.” Dan aku membantah,” Tetapi nampaknya hidup ini ruwet, benang-benangnya banyak yang hitam, mengapa tidak semuanya memakai warna yang cerah?”

Kemudian Allah menjawab,” Hambaku, kamu teruskan pekerjaanmu, dan Aku juga menyelesaikan pekerjaanKu di bumi ini. Satu saat nanti Aku akan memanggilmu ke sorga dan mendudukkan kamu di pangkuanKu, dan kamu akan melihat rencanaKu yang indah dari sisiKu.”

Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan bagian nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata : “Makanlah nak, aku tidak lapar”

(KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA)

 

Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia dapat memberikan sedikit makanan bergizi untuk pertumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk disamping kami dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan suduku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata : “Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan”

(KEBOHONGAN IBU YANG KE DUA)

 

Sekarang aku sudah masuk Sekolah Menengah, demi membiayai sekolahku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak mancis untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kepentingan hidup. Di kala musim sejuk tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak mancis.

Aku berkata : “Ibu, tidurlah, sudah malam, besok pagi ibu masih harus kerja.” Ibu tersenyum dan berkata : “Cepatlah tidur nak, aku tidak penat”

(KEBOHONGAN IBU YANG KE TIGA)

 

Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi loceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata : “Minumlah nak, aku tidak haus!”

(KEBOHONGAN IBU YANG KE EMPAT)

 

Setelah kepergian ayah, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai keperluan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang pakcik yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata : “Saya tidak butuh cinta”

(KEBOHONGAN IBU YANG KE LIMA)

 

Setelah aku tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi keperluan hidupnya. Aku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi keperluan ibu, tetapi ibu berkeras tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : “Saya ada duit”

(KEBOHONGAN IBU YANG KE ENAM)

 

Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena Diabetes dan komplikasi, harus dirawat di hospital, aku yang berada jauh segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani pembedahan. Ibu yang kelihatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam keadaan seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : “Jangan menangis anakku, Aku tidak kesakitan”

(KEBOHONGAN IBU YANG KE DELAPAN)

 

Setelah mengucapkan kebohongannya yang kelapan, ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.

 

Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : “Terima kasih ibu..!” Coba dipikir-pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon ayah ibu kita? Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang dengan ayah ibu kita? Di tengah-tengah aktivitas kita yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah. Jika dibandingkan dengan pasangan kita, kita pasti lebih peduli dengan pasangan kita. Buktinya, kita selalu risau akan kabar pasangan kita, risau apakah dia sudah makan atau belum, risau apakah dia bahagia bila di samping kita. Namun, apakah kita semua pernah merisaukan kabar dari orangtua kita? Risau apakah orangtua kita sudah makan atau belum? Risau apakah orangtua kita sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita renungkan kembali lagi…

 

Bersyukur bagi Saudara yang masih mempunyai orang tua, masih memiliki ibu. Memiliki ibu ibarat jika kita bangun tidur dan membuka jendela kamar, tampak jelas surga didepan mata.

 

Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi orangtua kita, lakukanlah yang terbaik.

Jangan sampai ada kata “MENYESAL” di kemudian hari.

 

Bagaimana Saudara, Anda boleh tidak setuju!

 

Di awal zaman, Tuhan menciptakan seekor sapi.

Beliau berkata kepada sang sapi “Hari ini kuciptakan kau!

Sebagai sapi engkau harus pergi ke padang rumput.

Kau harus bekerja di bawah terik matahari sepanjang hari.

Kutetapkan umurmu sekitar 50 tahun.”

Sang Sapi keberatan “Kehidupanku akan sangat berat selama 50 tahun.

Kiranya 20 tahun cukuplah buatku.

Kukembalikan kepadamu yang 30 tahun”

Maka setujulah Tuhan.

 

Di hari kedua, Tuhan menciptakan monyet.

“Hai monyet, hiburlah  manusia. Aku berikan kau umur 20 tahun!”

Sang monyet menjawab “What?

Menghibur mereka dan membuat mereka tertawa? 10 tahun cukuplah.

Kukembalikan 10 tahun padamu” Maka setujulah Tuhan.

 

Di hari ketiga, Tuhan menciptakan anjing. “Apa yang harus kau lakukan

adalah menjaga pintu rumah majikanmu.

Setiap orang mendekat kau harus menggongongnya.

Untuk itu kuberikan hidupmu selama 20 tahun!”

Sang anjing menolak : “Menjaga pintu sepanjang hari selama 20 tahun ?

No way.! Kukembalikan 10 tahun padamu”. Maka setujulah Tuhan.

 

Di hari keempat, Tuhan menciptakan manusia.

Sabda Tuhan: “Tugasmu adalah makan, tidur, dan bersenang-senang.

Inilah kehidupan. Kau akan menikmatinya.

Akan kuberikan engkau umur sepanjang 25 tahun!”

Sang manusia keberatan, katanya “Menikmati kehidupan selama 20 tahun?

Itu terlalu pendek Tuhan. Let’s make a deal.

Karena sapi mengembalikan 30 tahun usianya,

lalu anjing mengembalikan 10 tahun, dan monyet

mengembalikan 10 tahun usianya padamu, berikanlah semuanya itu

padaku. Semua itu akan menambah masa hidupku menjadi 75 tahun.

Setuju ?”   Maka setujulah Tuhan.

 

 

AKIBATNYA…………………………

 

Pada 25 tahun pertama kehidupan sebagai manusia dijalankan

(kita makan, tidur dan bersenang-senang)

 

30 tahun berikutnya menjalankan kehidupan layaknya seekor sapi

(kita harus bekerja keras sepanjang hari untuk menopang keluarga kita.)

 

10 tahun kemudian kita menghibur dan membuat cucu kita

tertawa dengan berperan sebagai monyet yang menghibur.

 

Dan 10 tahun berikutnya kita tinggal dirumah, duduk

didepan pintu, dan menggonggong kepada orang yang lewat

 

Sorry hanya untuk renungan..

Bagaimana Saudara, Anda boleh tidak setuju!

Kawan….

Kenapa kita menutup mata ketika kita tidur ?

Ketika kita menangis ?

Ketika kita membayangkan ?

Itu karena hal terindah TIDAK TERLIHAT di dunia ini….

 

Kadang….

Ada hal-hal yang tidak ingin kita lepaskan….

Orang-orang yang tidak ingin kita tinggalkan….

Tapi ingatlah….melepaskan BUKAN akhir dari dunia….

Melainkan awal dari suatu kehidupan baru….

 

Kebahagiaan Ada untuk mereka yang menangis….

Mereka yang tersakiti….mereka yang telah mencari…..

Dan mereka yang telah mencoba….

Karena MEREKALAH yang bisa menghargai

Betapa pentingnya orang-orang yang telah menyentuh kehidupan mereka

Dengan CINTA yang TULUS…..

 

Adala ketika kita menitikkan air mata,

Dan masih peduli terhadapnya….

Adalah ketika dia tidak mempedulikanmu,

Dan kita masih menunggunya dengan setia….

Adalah ketika dia mulai mencintai orang lain

Dan kita MASIH bisa tersenyum….

Apabila cinta tidak berhasil…. BEBASKAN diri kita….

Biarkan hati kita kembali melebarkan sayapnya

Dan terbang de alam bebas….

 

Ingatlah….

Bahwa kita mungkin menemukan cinta dan kehilangannya….

Tapi…

Ketika cinta itu mati…. kita tidak perlu MATI bersamanya….

Orang terkuat BUKAN mereka yang selelu menang….

MELAINKAN mereka yang tetap berdiri tegap ketika mereka jatuh….

 

Entah bagaimana…

Dalam perjalanan kehidupan,

Kita belajar tentang diri kita sendiri….

Dan … menyadari bahwa

Penyesalan tidak seharusnya ada…. HANYALAH

Penghargaan abadi atas pilihan-pilihan hidup yang telah kita buat

 

 

MENCINTAI….

BUKANlah bagaimana kita melupakan….melainkan

Bagaimana kita MEMAAFKAN….

BUKAN bagaimana kita mendengarkan….melainkan

Bagaimana kita MENGERTI….

BUKAN apa yang kita lihat…. melainkan apa yang kita RASAKAN

BUKAN bagaimana kita melepaskan….melainkan

Bagaimana kita BERTAHAN….


Kawan…..

Lebih berbahaya mencucurkan air mata dalam hati….

Dibandingkan menangis tersedu-sedu….

Air mata yang keluar dapat dihapus….sementara air mata yang tersembunyi dalam hati,

Menggoreskan luka yang tidak akan pernah hilang….

 

Akan tiba saatnya dimana kita harus berhenti mencintai seseorang

BUKAN karena orang itu berhenti mencintai kita

MELAINKAN….

Karena ktia menyadari bahwa orang itu akan lebih berbahagia apabila kita melepaskannya

 

Kadang kala orang yang kita cintai adalah orang yang PALING menyakiti hati kita dan…

Kadang kala, teman yang menangis bersama kita adalah cinta yang tidak kita sadari…..

 

 

Bagaimana Saudara, Anda boleh tidak setuju!

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari
Birokrasi berasal dari kata bureaucracy (bahasa inggris bureau + cracy), diartikan sebagai suatu organisasi yang memiliki rantai komando dengan bentuk piramida, dimana lebih banyak orang berada ditingkat bawah dari pada tingkat atas, biasanya ditemui pada instansi yang sifatnya administratif maupun militer.
Pada rantai komando ini setiap posisi serta tanggung jawab kerjanya dideskripsikan dengan jelas dalam organigram. Organisasi ini pun memiliki aturan dan prosedur ketat sehingga cenderung kurang fleksibel. Ciri lainnya adalah biasanya terdapat banyak formulir yang harus dilengkapi dan pendelegasian wewenang harus dilakukan sesuai dengan hirarki kekuasaan.

Berbagai definisi birokrat
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, birokrasi didefinisikan sebagai :
1. Sistem pemerintahan yang dijalankan oleh pegawai pemerintah karena telah berpegang pada hirarki dan jenjang jabatan
2. Cara bekerja atau susunan pekerjaan yang serba lamban, serta menurut tata aturan (adat dan sebagainya) yang banyak liku-likunya dan sebagainya.
Definisi birokrasi ini mengalami revisi, dimana birokrasi selanjutnya didefinisikan sebagai
1.Sistem pemerintahan yang dijalankan oleh pegawai bayaran yang tidak dipilih oleh rakyat, dan

2.Cara pemerintahan yang sangat dikuasai oleh pegawai.

Berdasarkan definisi tersebut, pegawai atau karyawan dari birokrasi diperoleh dari penunjukan atau ditunjuk (appointed) dan bukan dipilih (elected).

Saat membacakan Proklamasi, usia Bung Karno (BK) 44 tahun, lebih tua setahun dari Mohamad Hatta. Orang yang dituakan BK tinggal sedikit, misalnya Haji Agus Salim (61), Ki Hajar Dewantara (56), atau Tan Malaka (48).
Panglima Besar Jenderal Sudirman 15 tahun lebih muda, Wakil Panglima Besar Kolonel AH Nasution 17 tahun di bawahnya. Ketika menulis Indonesia Menggugat, BK baru 27 tahun—Pak Nas masih remaja.
Perbedaan usia BK yang berkuasa selama 20 tahun dengan pemimpin parpol/TNI makin tahun makin kentara. Dalam bahasa Belanda ia diledek sebagai ouwe heer alias Pak Tua.
BK kesepian waktu Bung Hatta mundur dari jabatan wapres tahun 1956. Ia sibuk dengan “Konsepsi”, habis-habisan menjaga demokrasi parlementer, dirundung pemberontakan, mau dibunuh, sampai memaklumatkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959.
Ia tokoh sentral yang belum tertandingi siapa pun. BK praktis jadi pemerintah yang tak berhenti gelisah barang sedetik pun.
Ia makin jarang berkunjung ke daerah, tetapi sering ke luar negeri untuk kunjungan kerja maupun pribadi. Ia mengenakan seragam lengkap dengan deretan tanda jasa di dada untuk mengingatkan TNI ia-lah sang pangti.
Dalam waktu 20 tahun ia menerima 26 gelar doktor kehormatan. Buku-buku yang dilahapnya berserakan di kamar tidur, toilet, ruang tamu, atau di meja makan.
BK memiliki semuanya, kecuali uang. Anda pasti tak percaya sebagian duit membangun rumah di Jalan Sriwijaya, Jakarta Selatan, berasal dari utang.
Semua orang datang tak henti meminta bertemu dia. Jam tidur dia hanya 3-4 jam sehari dan itu pun sering terganggu karena ia “turba” (turun ke bawah) melihat kehidupan rakyat tanpa pengawal dengan VW Kodok warna hijau kesayangannya.
Mungkin idealnya BK mengakhiri karier politiknya saat memasuki usia 60 tahun. Mungkin Pak Amien Rais benar saat menyarankan usia capres pada pilpres tahun 2009 maksimal 60 tahun.
Tetapi, siapa pula yang bisa mengatur napas politik BK? Dalam periode 1960-1965 itulah BK justru menjalani tahun-tahun yang paling menentukan masa depan politiknya.
Jumlah penduduk Indonesia sekitar 100 juta. Kehidupan ekonomi memprihatinkan, antara lain karena pemberontakan PRRI/Permesta, politik konfrontasi terhadap Malaysia, dan perang merebut Irian Barat dari tangan Belanda.
Rencana Pembangunan Nasional tahap ketiga yang bertujuan Indonesia tinggal landas masuk tahap industrialisasi tak berjalan meski BK memimpin Kabinet Kerja I sampai IV (1959-1964). Di saat yang sama BK menjalankan politik luar negeri yang ambisius dengan menyelenggarakan Asian Games (1962), Ganefo (1963), dan membentuk Conefo (1965).
Lebih dari itu, BK direcoki lawan-lawan politiknya di luar maupun dalam negeri. Ia masih jadi sasaran pembunuhan, sering digosipkan mau dikudeta lalu diasingkan ke China, dirumorkan sakit keras, bahkan mau kabur ke luar negeri.
Pada saat yang sama kepemimpinan BK makin tak kenal ampun, termasuk memenjarakan rekan-rekan seperjuangan sendiri. Lima tahun sejak 1960 ia makin sering mengangkat sekaligus memecat orang, termasuk mereka yang tergabung dalam “Kabinet 100 Menteri”.
BK disanjung-sanjung dengan gelar-gelar kosong, seperti “Penyambung Lidah Rakyat”, “Presiden Seumur Hidup”, atau “Pemimpin Besar Revolusi”. Ia memaksa orang menari “lenso”, menangkap Koes Bersaudara yang memainkan musik ngak-ngik-ngok ala The Beatles, atau dipuja-puji lewat lagu Oentoek Paduka Jang Mulia yang dinyanyikan Lilis Suryani.
Ia terperangkap ke dalam slogan-slogan karangan dia sendiri, seperti “Manipol-Usdek”, “Tahun Vivere Peri Koloso”, atau “Panca Azimat Revolusi”. Ia terlalu sering mengelu-elukan Menpangad Letjen Achmad Yani atau Ketua Umum PKI DN Aidit jadi “putra mahkota” pengganti resmi.
Kekuatan Tiga Besar dalam negeri yang dihadapi BK terangkum lewat Nasakom yang menurut dia merupakan “jiwaku”. BK menegaskan yang menghalangi Nasakom akan disingkirkan karena masuk kategori “kepala batu”.
BK menjaga jarak dengan PNI untuk unjuk diri sebagai “bapak” penaung semua aliran. Makin tahun ia makin memanjakan PKI dan membiarkan mereka berkali-kali mengganggu kalangan beragama, misalnya lewat isu land reform atau kampanye anti-Tuhan.
Meski sering bertikai secara terbuka, BK tak beda prinsip dengan kelompok nasionalis lainnya, TNI. Mereka sejalan dalam menghadapi pemberontakan PRRI/Permesta, perang pembebasan Irian Barat, dan politik konfrontasi.
Namun, pertentangan BK-Pak Nas sejak 1950-an jadi faktor dominan yang ikut memengaruhi pecahnya G30S tahun 1965. Pangti ouwe heer yang berumur 64 tahun berhadapan dengan sesepuh TNI AD yang baru berusia 46 tahun pas tahun 1965.
Kedua-duanya sama-sama berjuang dari bawah dan selama jadi pejabat publik menerapkan pola hidup sederhana. Pak Nas pembawa panji Orde Baru yang setengah hati, BK kalah dan terkurung sampai meninggal dunia.
BK sering mengatakan, “Revolusi akan memakan anaknya sendiri”. Pada detik-detik terakhir ia bisa saja melancarkan serangan balik, tetapi untuk apa kalau cuma memecah belah bangsanya sendiri?
Tahun 1965 itulah akhir dari “Drama Indonesia Jilid Pertama”. Mereka yang memujanya mungkin lebih banyak daripada yang membencinya, tetapi tak ada yang tak setuju bahwa BK jadi bintang utamanya.
Bagaimana dengan “Drama Indonesia Jilid Kedua”? Tunggu tanggal mainnya.